Bronkoskopi: Teropong Cerdas Atasi Gangguan Saluran Napas

Ibu Mawar sangat terkejut melihat buah hatinya, Bayu, yang berusia lima bulan terbatuk-batuk tiba-tiba saat bermain. Ia makin panik ketika melihat Bayu tampak tersedak dan di sekelilingnya berceceran beberapa jarum pentul. Ia segera memeriksa mulut Bayu, namun di mulutnya sudah tidak tampak lagi jarum pentul. Meski demikian Bayu makin terbatuk-batuk sambil menangis kesakitan. Segera Bayu dilarikan ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat dan diperiksa oleh dokter. Hasil ronsen ternyata menunjukkan gambaran benda asing mirip jarum di saluran napas. Bayu akhirnya dirujuk ke rumah sakit besar di Jakarta. Bersyukur Bayu dapat segera ditangani tim khusus terdiri dokter anak, ahli THT, dan ahli anestesi;  dan dilakukan tindakan pengeluaran benda asing dengan bronkoskopi. Benda asing berupa jarum pentul berhasil dikeluarkan dari saluran napas Bayu tanpa mengalami komplikasi.

Ilustrasi cerita yang diadaptasi dari kejadian nyata di atas merupakan gambaran kasus tersedak benda asing yang sering terjadi pada anak khususnya balita. Data di Amerika menunjukkan kasus tersedak benda asing sebanyak 75% pada anak berusia di bawah 3 tahun. Dahulu diperlukan tindakan bedah untuk  mengeluarkan benda asing di saluran napas, tetapi sekarang dapat dilakukan dengan tindakan bronkoskopi. Bronkoskopi merupakan tindakan diagnostik sekaligus terapeutik  (pengobatan) yang menggunakan bronkoskop (pipa teropong) melalui saluran pernapasan. Bronkoskop dimasukkan ke dalam saluran napas melalui hidung atau mulut, atau kadang-kadang melalui trakeostomi (lubang kecil yang dibuat di leher). Dengan bronkoskopi ini memungkinkan dokter untuk memeriksa saluran napas pasien dengan kelainan seperti benda asing, perdarahan, tumor, atau peradangan.

Menurut karakteristiknya terdapat dua macam bronkoskopi yaitu bronkoskop rigid (kaku) dan bronkoskop fleksibel. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bronkoskop kaku lebih baik dalam mempertahankan saluran napas agar tetap terbuka sehingga menjadi pilihan utama untuk pengeluaran benda asing. Sedangkan bronkoskop fleksibel memiliki kelenturan yang baik dalam memvisualisasikan bronkus (cabang paru) hingga cabang terkecil sehingga menjadi pilihan utama dalam memeriksa perdarahan, peradangan, dan pencarian benda asing.

Meski sangat banyak prosedur yang dapat dilakukan dengan bronkoskopi fleksibel, tidak semua kondisi kelainan saluran napas memerlukan tindakan bronkoskopi. Ada beberapa indikasi antara lain adanya gangguan saluran napas dengan suara seperti mengorok yang didapatkan saat bangun maupun tidur (stridor), adanya suara mengi yang hanya terdengar pada satu bagian paru atau menetap walau telah diberi pengobatan, adanya batuk kronik yang tidak jelas penyebabnya walau sudah dilakukan berbagai pemeriksaan, adanya batuk darah, adanya sumbatan trakea berupa benda asing, kondisi pasca intubasi, dan pengambilan bilas saluran napas bronkus untuk mendapatkan bahan untuk pemeriksaan mikroba serta dapat digunakan untuk mengembangkan paru yang mengempis/tidak mengembang akibat tersumbat lendir.

Sumber gambar : http://www.adamimages.com

Penulis : Dr. Dimas Dwi Saputro, Sp.A

Reviewer : Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A(K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia